PUISI
Budaya menyengsaraku
karya : sahabat
Aku di baiat atas nama Tuhan, untuk setia mengabdi tanpa tahu untuk apa menjalani.
Aku berjalan, ikuti senyum yang meyakinkan tanpa sadar bahwa itu vaksin buatan.
Aku gerilya seperti robot tak kenal lelah, begadang menenggak hitamnya kopi pahit.
Demi berintelektualis, mengejar pujian omong kosong.
Aku gerilya seperti robot tak kenal lelah, begadang menenggak hitamnya kopi pahit.
Demi berintelektualis, mengejar pujian omong kosong.
Aku diadu, dijadikan bidikan umpatan demi umpatan dan dibilang otak kosong.
Aku muak marah membela diri disangka tak beretika.
Aku berada di lingkiran kawan, tapi beda paham dianggap lawan.
Demi budaya, tak melihat aturan, yang terpenting sama dengan yang sudah ada.
Aku muak marah membela diri disangka tak beretika.
Aku berada di lingkiran kawan, tapi beda paham dianggap lawan.
Demi budaya, tak melihat aturan, yang terpenting sama dengan yang sudah ada.
Aku duduk di depan diam disangka tak kritis.
Aku bicara kesana kemari dikira sok intelektualis.
Aku berfikir benar salah sama saja, maka dimana lebih lama berada disitu ia berkuasa.
Demi melampiaskan amarah, kekecewaan atas gagal berkuasa, dia ciptakan arus berbeda.
Aku bicara kesana kemari dikira sok intelektualis.
Aku berfikir benar salah sama saja, maka dimana lebih lama berada disitu ia berkuasa.
Demi melampiaskan amarah, kekecewaan atas gagal berkuasa, dia ciptakan arus berbeda.
Padahal, dia bilang katakan benar jika itu benar.
Lawan semua rasa penindasan.
Dengar semua pendapat sesama
Dan yakini yang benar dan akui yang salah.
Lawan semua rasa penindasan.
Dengar semua pendapat sesama
Dan yakini yang benar dan akui yang salah.
Budayaku menyengsaraku, memaksa aku menyadari bahwa hidup tak lebih dari tusuk menusuk.
Budayaku menyengsaraku, betapa berat kata berkhianat.
Budayaku menyengsaraku, ingin mengingkari tapi Tuhan telah menjadi saksi.
Budayaku menyengsaraku, membuat dilema selamat dunia atau akhirat.
Budayaku menyengsaraku, betapa berat kata berkhianat.
Budayaku menyengsaraku, ingin mengingkari tapi Tuhan telah menjadi saksi.
Budayaku menyengsaraku, membuat dilema selamat dunia atau akhirat.
Jika ingin memanusiakan sesama, kenapa kita malah beradu dengan sesama?
Jika kita ingin bersahabat, kenapa kita malah saling berkhianat?
Dan jika kita ingin rumah kita ramai suka tawa, kenapa kita saling menerka?
Oh pendahuku, kau lebih paham.. Mengapa budaya menyengsaraku!
Jika kita ingin bersahabat, kenapa kita malah saling berkhianat?
Dan jika kita ingin rumah kita ramai suka tawa, kenapa kita saling menerka?
Oh pendahuku, kau lebih paham.. Mengapa budaya menyengsaraku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar